Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Warga Aceh Tamiang Minum Air Banjir Campur Teh Kesulitan Air Bersih BBM Rp 80 Ribu/Liter

Skintific

Warga Aceh Tamiang Terpaksa Minum Air Banjir Campur Teh, Krisis Air Bersih dan BBM Capai Rp 80 Ribu/Liter

Media Pematangsiantar – Warga Aceh Tamiang Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang dalam beberapa hari terakhir tidak hanya merendam permukiman, namun juga menimbulkan dampak serius terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Kekurangan air bersih, akses yang terputus, serta harga BBM yang melonjak drastis membuat warga harus bertahan dalam kondisi yang jauh dari layak.

Air Bersih Langka, Warga Seduh Teh dengan Air Banjir

Di beberapa desa yang terdampak paling parah, warga mengaku terpaksa mengonsumsi air banjir yang dimasak lalu dicampur dengan teh karena tidak ada sumber air bersih yang bisa digunakan. Sumur warga terendam lumpur, sementara suplai air bersih dari luar belum bisa masuk akibat terputusnya jalur akses.

Skintific

“Air sumur sudah keruh semua, tidak bisa dipakai. Mau tidak mau kami rebus air banjir, kasih teh biar baunya hilang sedikit,” ujar salah satu warga yang tinggal di daerah aliran Sungai Tamiang.

Meski sadar risiko kesehatan yang dapat timbul, warga tidak memiliki pilihan lain. Mereka berharap pasokan air bersih segera datang sebelum kondisi ini memicu penyakit seperti diare dan infeksi kulit.Warga Aceh Tamiang Terisolasi, Krisis Air Bersih dan Logistik Makin  Mendesak | NNC Netralnews

Baca Juga: Mualem Tinjau Distribusi Logistik Pasca Banjir di Pelabuhan Krueng Geukueh Aceh Utara

Harga BBM Tembus Rp 80 Ribu per Liter

Tidak hanya air bersih, warga juga mengeluhkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang melonjak hingga Rp 80 ribu per liter di beberapa titik terisolasi. Kelangkaan terjadi karena kendaraan pengangkut BBM tidak bisa masuk akibat jalan yang rusak dan terendam.

Harga yang melambung membuat warga kesulitan mengoperasikan mesin air, perahu kecil, maupun generator untuk penerangan. “Kalau tidak beli BBM, kami tidak bisa menjalankan mesin untuk mengeringkan rumah. Tapi harga sudah tidak sanggup lagi,” keluh seorang warga lainnya.

Akses Terputus, Bantuan Terhambat

Beberapa desa di Aceh Tamiang masih sulit dijangkau karena tingginya genangan air yang menutup jalan utama. Tim relawan hanya bisa masuk menggunakan perahu karet atau rakit darurat. Kondisi ini membuat distribusi bantuan, terutama air bersih dan kebutuhan harian, berjalan lambat.

BPBD dan relawan setempat terus berupaya menyalurkan air mineral, makanan siap saji, serta selimut.

Risiko Kesehatan Mengancam

Mereka meminta pemerintah mempercepat pengiriman air bersih untuk mencegah terjadinya wabah penyakit.

“Jika terus begini, risiko diare massal dan infeksi sangat besar. Warga butuh suplai air bersih secepatnya,” kata seorang perawat di pos kesehatan darurat.

Warga Aceh Tamiang Pemerintah Diminta Bergerak Lebih Cepat

Tokoh masyarakat dan relawan mendesak pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat untuk turun tangan lebih agresif.

“Kami tidak butuh banyak, hanya air bersih dan bantuan untuk bertahan. Banjir boleh saja merendam rumah, tetapi mereka tidak ingin kehilangan kesehatan dan keselamatan akibat dampak lanjutan yang lebih berbahaya.

Skintific