Malam itu saya lagi duduk santai di teras rumah, ngopi sambil nonton TV. Tiba-tiba HP saya bergetar kencang. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Saya buka, ternyata grup WhatsApp kampung sudah ramai banget. Ada yang kirim foto, ada yang kirim pesan suara, ada juga yang udah mulai panik sendiri.
Isinya soal berita yang katanya baru saja terjadi di desa sebelah. Saya baca sekilas, judulnya bikin kaget. Tapi begitu saya telusuri lebih jauh, kok rasanya aneh. Nggak ada nama media jelas, tanggalnya juga nggak ada. Cuma gambar buram plus tulisan yang bikin merinding.
Nah, dari kejadian itu saya belajar banyak hal. Dan saya mau cerita ke kamu, terutama buat kita-kita yang tinggal di kampung atau kota kecil, soal gimana sih sebenarnya berita itu bekerja dan kenapa kita sering banget ketipu.
Baca juga: Bertemu BBKSDA DPRD Jabar Sebut Nasib Bandung Zoo Ditentukan April
Malam Itu, Satu Kampung Hampir Panik
Jadi ceritanya begini. Ada salah satu warga yang dapat informasi dari grup lain, terus diteruskan ke grup kampung. Katanya ada kejadian besar di desa sebelah, yang bikin warga di sana pada keluar rumah tengah malam. Saya nggak mau sebut detail kejadiannya, intinya bikin orang takut.
Dalam hitungan menit, grup yang tadinya isinya cuma jualan sayur dan undangan kerja bakti, mendadak berubah jadi ruang diskusi darurat. Ada yang bilang "iya saya dengar juga", ada yang nambah-nambahin cerita, ada juga yang langsung ngajak warga lain buat jaga-jaga.
Saya sendiri sempat bingung. Antara percaya dan nggak. Tapi karena saya lumayan sering baca berita online, saya coba cek ke beberapa sumber. Saya cari di mesin pencari, saya buka situs berita lokal, saya tanya teman yang tinggal di desa sebelah.
Hasilnya? Nggak ada kejadian apa-apa. Desa sebelah baik-baik saja. Warga di sana malah bingung kenapa kampung kami heboh sendiri.
Yang bikin saya agak miris, ternyata berita itu sudah menyebar ke tiga grup lain sebelum ada satu orang pun yang mengecek kebenarannya.
Kenapa Warga Kampung Gampang Banget Ketipu?
Saya nggak mau nyalahin siapa-siapa. Tapi dari pengalaman itu, saya jadi sadar ada beberapa hal yang bikin kita, warga kampung dan kota kecil, rentan banget kena berita bohong.
Pertama, kita percaya sama orang yang kita kenal
Kalau yang kirim berita itu tetangga sendiri, atau Pak RT, atau ibu-ibu pengajian, rasanya kok nggak mungkin ya mereka bohong. Padahal mereka juga cuma dapat dari orang lain. Mereka juga korban informasi yang belum jelas. Rantai kepercayaan ini yang bikin berita palsu jalan mulus banget.
Kedua, kita jarang cek sumber asli
Jujur aja, saya sendiri dulu begitu. Dapat berita, langsung percaya. Males buka Google, males baca sampai selesai. Padahal sekarang HP ada di tangan, ngecek cuma butuh dua menit. Tapi karena sudah terlanjur percaya sama pengirimnya, kita skip langkah paling penting itu.
Ketiga, berita yang bikin emosi lebih cepat nyebar
Ini yang paling bahaya. Berita yang bikin marah, takut, atau sedih, itu yang paling cepat diteruskan. Sementara berita biasa, berita baik, berita yang menenangkan, seringnya cuma dibaca lalu dilewati. Padahal belum tentu yang bikin emosi itu benar.
Pelajaran yang Saya Bawa Sampai Sekarang
Sejak kejadian malam itu, saya jadi sedikit berubah. Nggak dramatic, tapi ada kebiasaan baru yang saya coba jaga sampai sekarang.
Pertama, saya biasain diri buat nggak langsung forward. Kalau dapat berita yang bikin kaget, saya tahan dulu. Saya cek dulu. Kalau nggak ketemu sumbernya, ya saya nggak teruskan. Sesederhana itu.
Kedua, saya mulai kenal beberapa situs berita lokal yang kredibel. Yang redaksinya jelas, ada alamat kantornya, ada nama penulisnya. Jadi kalau ada kabar soal daerah saya, saya cek ke sana dulu sebelum percaya grup WA.
Ketiga, dan ini yang paling penting, saya belajar buat nanya. Dulu saya malu kalau mau tanya "ini sumbernya dari mana?" di grup. Sekarang saya nggak malu lagi. Justru dengan nanya, orang lain jadi ikut mikir.
- Tahan dulu sebelum forward, minimal 10 menit
- Cek ke minimal dua sumber berbeda
- Kalau nggak ada nama media dan tanggal, curigai
- Jangan ragu tanya sumber di grup, itu bukan hal memalukan
- Ingat, yang bikin emosi biasanya yang paling perlu dicek
Buat Kita yang Tinggal di Kampung
Saya tahu rasanya jadi orang yang suka ngecek berita di grup kampung. Kadang dibilang sok tahu, kadang dibilang nggak percayaan sama tetangga. Tapi saya pikir, lebih baik dianggap begitu daripada satu kampung panik gara-gara berita yang belum jelas.
Kita yang tinggal di kota kecil atau desa punya kekuatan yang nggak dimiliki orang kota: kita saling kenal. Kalau ada berita aneh, kita bisa langsung tanya ke orang yang bersangkutan. Nggak perlu nunggu klarifikasi media besar. Cukup telpon Pak RT, atau mampir ke rumah tetangga.
Yang penting, jangan sampai kedekatan itu justru bikin kita malas mikir. Justru karena kita saling kenal, kita bisa jadi filter pertama buat berita yang masuk ke kampung kita.
Malam itu saya akhiri dengan kopi yang sudah dingin dan HP yang saya taruh jauh-jauh. Besok paginya, grup kampung kembali normal. Isinya jualan sayur, undangan kerja bakti, dan sesekali foto kucing tetangga. Dan saya bersyukur, kejadian itu nggak jadi bikin satu kampung keluar rumah tengah malam cuma gara-gara satu pesan yang nggak jelas ujung pangkalnya.